JABAR DAERAH EKSPERIMENTAL YANG “DIGAGALKAN”

0
10

JABAR DAERAH EKSPERIMENTAL YANG “DIGAGALKAN”

Ramai soal Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung diperguncingkan. Sejumlah tokoh mengurai  soal ini. Hiruk pikuk komentar seliweran. Koran TEMPO membahasnya dengan lipuatn yang sarkatis: PROYEK LAMBAT KERETA CEPAT dengan menyebutkan pengerjaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung kembali meleset dari tenggat. Biaya proyek membengkak hingga 23 persen—sekitar US$ 1,39 miliar—akibat kurang akuratnya perhitungan awal.

SUNDANESIA.CO.ID –  Akibat berita TEMPO diatas itu saya membuka kembali buku “Menggugat Kereta Api Cepat Jakarta – Bandung  karya Ayi Hambali-AM FATWA yang diterbitkan dua  DPD RI 2017.

Bahkan dengan tegas bahwa Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Periode 2014-2019, H. Ayi Hambali, MM, mengungkapkan, sejumlah bencana alam yang diakibatkan proyek pembangunan rel kereta api (KA) cepat Jakarta-Bandung, sudah diprediksi jauh sebelumnya.

“Waktu itu sudah memprediksi bahwa pembangunan KA Cepat Jakarta-Bandung akan berdampsk serius terhadap lingkungan. Sebab trase KA cepat itu berada di wilayah yang rawan bencana,” ungkap Ayi.

Ayi juga menjelaskan, pada Oktober 2015, anggota DPD RI menggunakan hak bertanya kepada Presiden tentang Pembangunan Proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung, salah satu yang mendapat perhatian sangat serius waktu itu adalah pengelolaan dampak lingkungan pada saat prakonstruksi, saat konstruksi dan saat operasional. Kami mempersoalkan hal itu karena mamang daerah yang dilalui oleh trase kereta api cepat tersebut merupakan wilayah yang rawan bencana, kata Ayi.

Menurut Ayi, dalam beberapa bulan terakhir ini terjadi beberapa kali bencana, mulai dari meledaknya pipa Pertamina, banjir di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang sebelumnya belum pernah terjadi, banjir di jalan tol Jakarta-Cikampek, hingga longsor di wilayah Kabupaten Purwakarta yang disebabkan proses konstruksi pada areal pembuatan terowongan bawah tanah.

Semua itu, kata Ayi, berujung pada dikeluarkannya Surat Perintah Pemberhentian Sementara Pembangunan Proyek KA Cepat Jakarta Bandung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI.

“Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan prediksi yang berangsur menjadi fakta dan dipastikan akan berdampak pada membengkaknya biaya pembangunan serta molornya waktu penyelesaian proyek KA cepat. Ini tentu saja akan berakibat juga pada kalkulasi finansial dan membengkaknya utang,” tuturnya.

Mega proyek itu pun, katanya lagi, kini menjadi buah simalakama: bila diteruskan maka potensi kerugian sudah tergambar dengan jelas, bila tidak dilanjutkan maka biaya yang sudah dikeluarkan, yang bersumber dari pinjaman, mau dari mana mengembalikannya?

“Kedua pilihan ini akhirnya akan jadi beban APBN dimasa mendatang,” kata Ayi yang bersama AM Fatwa (alm.) menulis buku tentang proyek KA cepat itu dengan judul “Menggugat Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung”.

Yang menarik lagi Prof Emil Salim diakun twitternya @emilsalim2010 mengkicaukan suara  apada 28 Maret 2021 isinya: Pembangunan proyek Menteri BUMN (2014-2019), tanpa kesepakatan Menteri Perhubungan lama, Kereta-Api-Cepat Jakarta-Bandung dibangun RI bersama RRT, kini diundurkan penyelesaiannya ke 2024 dgn biaya naik jadi US$ 1,39 milyar yg dipikul bangsa. Perlu dikaji mengapa bisa begitu?

Ketika proyek “Kereta-super-cepat Jakarta-Bandung” dilaksanakan tanpa studi-kelayakan, Amdal & perhitungan biaya-manfaat, masyarakat tidak terlibat dgn akibat seperti sekarang ini. Bisakah studi kelayakan “membangun Ibu-Kota-Negara-Baru” secara transparan melibatkan masyarakat?
Emil Salim adalah Economic Professor Emeritus University of Indonesia, Founder of Indonesian Biodiversity Foundation, Environmentalist, Sustainable Dev. 

Yang menarik juga ada yang dulu Walikota Bandung pernah sesumbar bahwa  dirinya pernah bertemu Presiden dan mengatakan: “Beliau mengindikasikan 2020 Kereta cepat sudah sudah bisa digunakan. Mundur satahun yang  seharusnya 2019” Pernyataan ini disampaikan Ridwan Kamil 20 April 2017 (cek saja saat itu Waikota Bandung) hal 317 (Buku Menggugat Kereta Api Cepat Jakarta – Bandung  karya Ayi Hambali -AM FATWA anggota DPD RI 2017).

Kini yang sang walikota itu jadi Gubernur bukan minta maaf dulu atau klarifikasi malah bikin blunder baru dimana dia mengatakan proyek kereta cepat akan selesai 2022.

Saya dapat dari sumber yang belum mau disebutkan bahwa sebenarnya Proyek Kereta Api Cepat Jakarta – Bandung adalah dagangannya para pemain properti. Silakan saja cek titik-titik tanah sepanjang jalur ini sudah di kuasai pemain property dan sampai ujung Bandung sana. “Ini kan semua diketahui ada konsultan para properti itu yang juga arsitek dan tokoh yang main dibelakangnya.” kata sumber tadi.

Yapi kini malah dikabrakan dari ujung tegalluar akan disambung lagi sampai kertajati. sebuah proyek fantastis. tak ada larangan akan proyek besar agar bisa makmur tapi betul apa kata Prof Emil Salim haruslah studi kelayakan  secara transparan yang dilibatkan masyarakat.

Seorang petinggi Gerakan Sunda Pilihan (Gerpis) Andri Kantaprawira bahwan pernah berseloroh ke penulis bahwa Jalur Kreta cepat itu rawan gempa, jadi secara lingkungan selain di rusak juga akan berbahaya. “Lingkungan Jawa Barat telah dirusak oleh proyek ini,” tegas Andri.

Jabar memang ruang besar jadi kue asyik atau sesua judulnya Jabar adalah daerah eksperimental yang jadi proyek besar namun diakhirnya “DIGAGALKAN”. Artinya dibuat mercusuar lalu ujungnya jadi bengkel hehe itu sih Kertajati bandara itu….

Dan jalur kerta cepat juga jadi rame ketika anggaran bengkak? Atau yang kini lagi rame silicon valley ala Cikidang Sukabumi? Lalu selanjutnya apa lagi?

Yang jelas dari tatar Sunda ini sedang dalam rencana besar yang selalu saja jadi rebutan….Tapi kita harusnya ingat MAW Brouwer (1923-1991) seorang psikolog dan budayawan warga negara Belanda yang lama tinggal di Bandung tanah Pasundan, mengajukan menjadi WNI namun gagal alias ditolak hingga akhir hayatnya. Ia pernah mengatakan bahwa bumi pasundan menurut  diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Jadi betapa indahnya tatar pasundan ini….dan harusnya meski proyek besar apapun hendaknya mempertimbangkan muatan lokal dan keramahan alam lingkungan serta historical. Iya nggak sih….?

Aendra M. KARTADIPURA, wartawan senior

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here