Dari Aceh Sampai Papua Dukung Kongres Sunda, Sebuah Refleksi Kebangsaan Akhir 2020

0
24

SUNDANESIA.CO.ID – Perwakilan dari tokoh nasional dari Aceh sampai Papua mendukung Kongres Sunda 2020. Ini sebuah bentuk kekuatan bahwa Sunda adalah adiluhung tinggi. Bahkan diakuia sejumlah tokoh bahwa Sunda telah memberikan kontribusi besar dalam cara masing-masing yang diterima Aceh sampai Papua. Inilah bukti yang nyata. Tak ada alasan jika ada yang menolak atau mempertanyakan Kongres Sunda.

Respon besar dari Kongres Sunda, Refleksi Kebangsaan Akhir 2020 yang digelar offline di Soreang Kabupaten Bandung Ahad, 27/12/2020 dan dengan Zoom meeting ini mendapat animo tinggi terlihat lebih 130 tokoh Jawa Barat dan Nasional hadir. Nama-nama perserta lainnya yaitu Ir. Sarwono Kusumaatmadja, Irjen (Purn) Ronnie F. Sompie (Tokoh Minahasa), Prof. Dr. M. Uhaib (Tokoh Kalimantan Timur), H. Lalu Putria S.Pd, M.Pd. Datu Silendeng Lombok (Ketua FSKN NTB), Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, dan Erry Riyana Harjapamekas (Mantan Wakil Ketua KPK). Kegiatan yang dipandu moderator/host Erwin Kustiman, turut menghadirkan narasumber Dra. Hj. Eni Sumarni, M.Kes (Anggota DPRD RI Provinsi Jawa Barat), Sedangkan narasumber lainnya, Gusti Kanjeng Ratu Gemas (Anggota DPD RI Provinsi DI Yogyakarta), Anak Agung Gede Agung, S.H (Anggota DPD RI Provinsi Bali), Dr. Filep Wamafma, SH., M.Hum (Anggota DPD Provinsi Papua Barat), H. Fachrul Razi, M.I.P (Anggota DPD RI Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) dan narasumber lainnya dalam menyampaikan penuturannya refleksi kebangsaan itu melalui aplikasi zoom.

Mencuat soal salah satu masalah krusial bangsa ini adalah Korupsi yang masih merajalela, padahal di dalam kondisi negara sedang dalam masalah besar semua pejabat negara harus bersih, profesional dan bersedia berkorban lebih dengan pikiran dan tenaganya agar negeri ini mampu melewati jalan gelap kelabu menuju jalan cahaya dan harapan di masa depan.

Kongres Sunda dengan visi “ Sunda Mulya Nusantara Jaya”. Sesuai Cita Cita Oto Iskandar Di Nata dan Ir. Djuanda Kartawijaya pada Hari Bersejarah yang sering dilupakan oleh para pemimpin negeri ini yaitu kelanjutan perjuangan Proklamasi 17 Agustus 1945, Perjuangan Revolusi Fisik (Militer) dan Diplomasi 1945-1949 dan kemenangan terakhir Perjuangan Fisik (Militer) dan Diplomasi yaitu dilakukannya Perundingan Konferensi Meja Bundar di Den Haag Belanda 27 Desember 1949 yang memberikan pengakuan “De Jure” kepada Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 secara internasional dan diakui sebagai negara bebas merdeka berdaulat diantara bangsa bangsa dan berhak menjadi anggota Perserikatan Bangsa Bangsa, mengajak semua tokoh bangsa penerus kemerdekaan Indonesia untuk BerREFLEKSI sejenak melihat kebelakang telah 75 tahun Indonesia Merdeka dan sekaligus melakukan proyeksikan akan seperti apakah NKRI di Usia nya yang ke-100 pada tahun 2045 sebagaimana banyak diungkapkan oleh para pemimpin negeri dan penyelenggara negara dari rezim ke rezim pemerintahan.

“Bangsa yang besar menurut Guru Bangsa HOS Cokroaminoto adalah bangsa yang jiwanya besar dan itu tentu berbasis pada budayanya yang tangguh dan unggul membentuk masyarakat dan para pemimpinnya,juga kehidupan beragamanya yang memberikan rahmat tidak saja kepada rakyat juga kepada alam kehidupannya, dipimpin oleh para pemimpinbangsa negara yang visioner, profesional dan berintegritas dengan loyalitas tunggal kepada negara serta kemaslahatan umum,” ujar Andri Andri P Kantaprawira selaku Ketua Ketua SC (Streaming Committee) Sunda kepada Redaksi (27/12/2020).

Ditambahkannya refleksi kebangsaan pada hari kebangsaan 27 Desember 2020 ini, dengan semangat peringatan Konferensi Meja Bundar ini sangat luar biasa sekali karena tidak terduga sejumah tokoh bangsa dan daerah dari Sabang sampai Merouke turut terlibat. Berdasarkan perwakilan dari suku Papua, kata Andri, urang Sunda turut membantu dan membangun pendidikan di Papua.
“Urang Sunda membangun pendidikan di Papua sangat kuat,” kata Andri dan ini diakui Dr. Filep Wamafma, SH., M.Hum (Anggota DPD Provinsi Papua Barat) bahwa orang Sunda telah memberikan banyak bagi orang Papua, pendiri Univeristas Manowari adalah orang Sunda.
“Saya langsung hadir ke Bandung ikut acara ini dan sekalgus akan ziarah ke pendiri Pendidikan di Papaua yang asli orang Sunda,” kata Filep di Soreang.
“Jadi dalam pelaksanaan refleksi kebangsaan ini sesuai dengan visi kongres Sunda, yaitu Sunda Mulya, Nusantara Jaya. Kita berhasil mengundang suku-suku bangsa nusantara, walaupun secara webinar. Ini kan tidak pernah terjadi dalam sejarah, hubungan kekeluargaan di masa pandemi Covid-19 ini,” lanjut Andri.
Masih kata Andri dengan adanya kegiatan refleksi kebangsaan itu, bisa menjadi modal untuk memikirkan bagaimana orang Sunda memikirkan kepada bangsa dan negara. “Sunda ini memang memiliki peran penting memikirkan urusan bangsa, karena tadi orang Papua bicara jaga Papua. Kita harus jaga Pasundan  dan ini penting dalam kongres Sunda untuk menuju pergantian nama Provinsi Jabar jadi Sunda lebih kuat lagi “tegasnya.
Menurutnya Andri dalam kegiatan refleksi kebangsaan itu tercermin kalau  “Orang Papua pun mengakui, orang Sunda tidak berebut kekuasaan di Papua. Orang Sunda hanya ikut berekonomi, pendidikan dan lain-lain. Kita harus berdaulat secara ekonomi dan berjaya secara politik. Walaupun kita lebih bisa menerima tokoh-tokoh suku bangsa lain untuk berada dan hadir  mewakili kita,” jelasnya.
Andri juga tak lupa menambahkan perwakilan Aceh mengharapkan membangun deklarasi bersama, komitmen bersama tentang bangsa ini kedepan. “Kita sama-sama berdialog dan bermusyawarah. Mungkin setelah Kongres Sunda mendatang, perlu dilakukan kongres suku bangsa nusantara untuk membangun Indonesia seperti penuturan Fachrul Razi dari Aceh,”tegasnya.

Fachrul Razi memang dalam zoom meetingnya dengan tegas mengatakan Aceh  melihat bahwa Sunda ini punya kekuatan yang luar biasa jadi dalam kegiatan refleksi kebangsaan 2020 hendaknya  silaturahmi semua dan mendorong agara Kongres Sunda ini menghasilkan Deklarasi baru setelah Deklarasi Juanda, “Saya mendukung sekali,” tegasnya.

Perwakilan dari tokoh nasional maupun perwakilan berbagai suku bangsa dari mulai Aceh sampai Merauke Papua sudah ikut. Lantas Kongres Sunda dengan visi “ Sunda Mulya Nusantara Jaya” Ini kapan Gubernurnya sendiri dukung, atau belum mau ikut turut terlibat?

Jadi hendaknya berlapang luaslah para tokoh yang tidak mendukung kongres Sunda menuju pergantian nama provinsi Sunda itu, toh nanti malah malu jika memang Kongres Sunda 2021 nanti akan minta langsung ke Presiden, bisa berabe loh..!!

Jadi menurut analisa tim redaksi bahwa pelaksanaan refleksi kebangsaan adalah sebuah pintu masuk dalam merajut komitmen berkearifan budaya daerah untuk kebaikan bangsa dalam bingkai NKRI yang sudah terbukti dari Aceh sampai Papua ikut mendukung, bahkan akan menjadi contoh bagai daerah lain refleksi kebangsaan ini. Hayo… Gubernur dukung atau masih malu-malu?  Cag ah!! 
AM. KARTADIPURA, untuk SUNDANESIA.co.id
FOTO-FOTO C SUKMA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here