Sundaku Sayang Sundaku Malang: Nama Jawa Barat Harus Dirubah Menjadi Provinsi Tatar Sunda/Provinsi Pasundan

0
14
Foto Panitia Kongres 2020/ist

Kepada

Yth.

Saudara-Saudaraku Sebangsa

Terutama Masyarakat Jawa Barat

Salam Sejahtera

Bersama ini kami sampaikan informasi yang berkaitan dengan permasalahan substantif yang ada di Jawa Barat,  yang menurut kami sangat berharga bagi anda sekalian

Sebagaimana anda ketahui bahwa jumlah penduduk Jawa Barat senantiasa  terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statiistik terakhir tahun 2015 sebanyak 46.709.569 jiwa. Sumber daya yang hebat tersebut bila diusahakan dengan berbagai cara seharusnya bisa berkontribusi banyak terhadap NKRI.

Namun sayang sekali sejak dilaksanakannya sensus oleh BPS pada 2003 hingga 2015 prosentase jumlah penduduk miskinnya  tidak pernah beranjak di posisi  15atau 16.  Pada 2014 memang sempat naik ke ranking 14 tapi pada 2015 kembali  menduduki ranking ke 16. Data yang lebih memprihatinkan lagi bahwa di tahun 2013 rata-rata income per kapita masyarakatnya berada di ranking  ke 34 dari 34 propinsi.

Ranking hampir  paling buncit  terjadi pada prosentase partisipasi pendidkan usia SMA pada tahun 2014 dan Tahun 2015 di posisi ke 32. Yang tak kalah memprihatinkannya adalah prosentase partisipasi pendidikan usia mahasiswanya. dimana pada  tahun 2015 berada di ranking ke 29 atau kalah jauh walau dibandingkan dengan propinsi Papua apalagi Papua Barat yang masing-masing menduduki peringkat ke 20 dan ke 7.

Padahal fasilitas pendidikan yang dimiliki Jawa Barat jauh lebih banyak dibandingkan dengan ke dua provinsi yang baru berganti nama sejak 2003 tsb. Bahkan para mahasiswa dari Papua banyak sekali yang memilih kuliah di Jawa Barat Begitu pula bila dibandingkan dengan perovinsi Aceh yang sempat berganti nama sejak 2001 sd 2009.

Prosentase partisipasi pendidikan usia SMA berada di peringkat Ke 5 dan untuk perguruan tingginya di peringkat Ke 4.  Selain itu berdasarkan data dari Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) bahwa ranking  Jawa barat di Bidang Lingkungan Hidup pada  tahun 2016  berada di peringkat ke 28 terbaik.

Hal lain yang wajib diketahui bahwa Jawa Barat memiliki lebih dari 800 desa miskin. Berbagai upaya yang telah diusahakan pemerintah dan para wakil rakyatnya memang harus dihargai. Namun jika melihat kenyataan yang sangat menyedihkan tsb tetap harus dikritisi. Lalu apa yang menjadi penyebabnya?

Dalam beberapa kali diskusi dengan banyak tokoh di Jawa Barat, ditemukan salah satu penyebab sangat penting yang selalu  diabaikan oleh para Gubernur Jawa Barat dan  DPRD setempat. Hal tsb adalah  Nama JAWA BARAT yang tidak sesuai dengan basis Jati diri  budaya masyarakat Sunda. Padahal Jati Diri tsb sudah melekat sejak abad ke 7 disaat kerajaan Tarumanagara berubah nama menjadi Kerajaan Sunda.

Bahkan sejak abad ke 3 disaat nama Sundapura pernah dijadikan nama Ibu Kota Kerajaan di Tatar Sunda . Oleh sebab itu mengapa sejak puluhan abad lampau  Jawa Barat senantiasa dikenal dengan nama Tanah/Tatar Sunda. Namun pada awal abad ke 20 nama Tatar/Tanah Sunda dirubah oleh penjajah Belanda menjadi West Java/Jawa Barat. Pertimbangannya amat sangat sederhana  hanya untuk kepentingan  pemetaan wilayah perkebunan di tanah jajahan Pulau Jawa.

Bagaimana pun juga keputusan Belanda yang sangat tidak menghiraukan eksistensi budaya tsb langsung atau tidak langsung memengaruhi kekuatan masyarakatnya. Paling tidak jika hal tsb dikaitkan dengan pendapat  Prof DR David Viglio seorang ahli Namelogy yang mengatakan ; nama akan sangat berpengaruh terhadap pandangan pihak lain termasuk pandangan penggunanya sendiri. Sekitar empat abad lalu  Willian Shakesphere, di bagian cerita romannya   bisa saja  berkata  “Apalah arti sebuah nama?”  Namun bagi Bapak Dunia Periklanan Modern David Ogilvy  faktor nama  merupakan  faktor yang harus lebih diutamakan dari pada cara memasarkan sebuah produk.

Dalam konteks nama daerah seorang pakar Management Bisnis dari  Universitas Padjadjaran Prof. DR Ernie Krisnawati Sule, SE.M. Si  berpendapat,  bahwa nama Kota /kabupaten atau propinsi  perlu dipertimbangkan seperti halnya  mempertimbangkan  sebuah merek dagang atau Brand.

Alasannya disebabkan dalam upaya menyejahterakan rakyatnya, Begitu pula menurut mantan gubernur BI Burhanudin Abdullah bahwasanya penamaan daerah yang mendukung jati diri sebuah kelompok suku bangsa akan sangat berpengaruh terhadap pembangunan ekonomi di wilayah tersebut.

Pemerintah Kota/Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Propinsi tidak bisa lepas dari kegiatan dunia perekonomian. Jati diri  adalah modal sangat penting bagi persaingan, namun mau bersaing bagaimana jika dari segi nama saja  ternyata sangat tidak mendukung sebuah propinsi.

Bahkan merugikan masyarakat penduduk asli dan penduduk mayoritas.   Prof. Dr Richard L Dixon   yang menilai bahwa suku Sunda merupakan suku yang paling kurang dikenal di dunia. Bahkan sering dianggap sebagai bagian dari suku Sudan.  Mau eksis dalam persaingan seperti apa jika situasinya seperti itu ?!

Kesimpulannya  bahwa nama propinsi sejatinya harus dipandang sebagai  bagian holistik – integral  bagi sebuah kemajuan. Agar masyarakat Jawa Barat ke depan memiliki daya saing yang tinggi, maka perubahan nama Jawa Barat harus menjadi pertimbangan sangat serius. Apalagi mengingat sejumlah daerah seperti Makasar,  Papua, Papua Barat,  Aceh  terbukti  telah merasakan manfaatnya. Disamping perubahan nama tersebut sangatlah memungkinkan mengingat  telah memiliki dasar hukum Permendagri  No 30 tahun 2012

Keuntungan lain dari perubahan nama tsb adalah beragam kearifan lokal Sunda akan kembali diperhatikan. Hal tsb penting mengingat sejak dulu kearifan lokal  Ki Sunda sangat jauh dari sikap  egois.

Puluhan abad lampau Tatar Sunda sudah menjadi wilayah berkarakter metropolitan, dimana antara pendatang dengan pribumi selalu seiring sejalan saling memberi manfaat. Dengan begitu maka perubahan nama provinsi merupakan sikap yang visioner atau berpandangan jauh ke depan, mengingat peradaban berbangsa dan peradaban dunia ke depan menurut para pemikir peradaban seperti Pritjop Capra, John Naisbid, Alvin Tofler dll sangat membutuhkan kehidupan yang seimbang antara High Tech dan High Touch

Untuk melengkapi pencerahan anda, selanjutnya anda bisa membaca Kajian Akademis Perubahan Nama Jawa Barat  yang ditulis sejumlah nama  pada bagian lain tulisan berikutnya.

                                                                     Bandung  26 Oktober 2016

                                                                           Hormat Kami,

                                           Tim Pengkaji Perubahan Nama Jawa Barat

   Koordinator                           Juru Bicara                          Koord Sekertariat

Adjie Esa Poetra      Prof DR Asep Saeful Muhtadi          Dani Wisnu SE   

Sumber : https://sundakusayangsundakumalang.blogspot.com/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here