FESTIVAL AIR 2020: Kirab Budaya Ngarak Cai, Jaga Lingkungan Hidup dan Dongkrak Pariwisataan Kota Cimahi Berbasis Budaya

0
8

SUNDANESIA – Komunitas Budaya Bandoengmooi bersama Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC), didukungan Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora), Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, dan Fasilatasi Bidang Kebudayaan (FBK) 2020 Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kubudayaan RI gelar Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi, 24-25 Oktober 2020.

Ketua Bandoengmooi yang juga ketua DKKC Hermana HMT mengatakan, Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi ini merupakan rengkai kegiatan Festival Air 2020 yang pelaksanaannya sudah dilakukan sejak  26 September 2020. Kegiatan diawali dengan menyuguhkan seni pertunjukan teater, tari kreasi baru, musik kolaborasi etnik, reog Sunda, permainan tradisional, visualisasi manuskrip, pencak silat dan dongeng bertema air.

“Selain seni pertunjukan digelar pula kegiatan melukis bersama tanggal 10 dan 18 Oktober 2020 di Rumah Kreasi dan Pendopo DPRD Kota Cimahi. Sebanyak 10 perupa Kota Cimahi menuangkan gagasan bersama tentang air dengan mengespresikannya lewat cat dan kanvas,” jelas Hermana dalam rilisnya yang diterima Redaksi, Selasa, 20 Oktober 2020.
Karena pandemi Covid-19, pertunjukan, melukis bersama, termasuk Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi digelar secara virtual. Semua kegiatan tanpa penonton secara langsung, tapi didokumentasikan lewat video. Hasil karya 10 perupa bisa dilihat dalam bentuk pameran virtual dan seni pertunjukan juga dapat ditonton secara virtual pada 24 – 25 Oktober 2020 di youtube channel Bandoengmooi Art & Culture, lanjut Hermana.

“Kirab Budaya Ngarak Cai semula dirancang digelar di Car Free Day Kota Cimahi Jln. Raden Deman Hardjakusumah Komplek Pemerentahan Kota Cimahi. Namun untuk menjaga kesehatan masyarakat dari ancaman virus corona kegiatannya dilaksanakan dimasing-masing termpat peserta kirab,” tambahnya lagi.

Sebanya 16 peserta Kirab Budaya Ngarak Cai. 15 peserta dari 15 Kelurahan se Kota Cimahi, dan 1 peserta gabungan beberapa komunitas budaya di Kota Cimahi sekaligus sebagai peserta yang melakukan prosesi upacara Ngalokat Cai Cimahi. Kirab Budaya Ngarak Cai dilakukan di tiap kelurahan serentak tanggal 24 Oktober dan prosesi penyatuan air dari tiap Kelurahan atau upacara Ngalokat Cai dilakukan tanggal 25 Oktober 2020 di Plaza Rakyat Komplek Pemkot Cimahi.

Masih kata Hermana, kegiatan kirab budaya dan ngalokat cai ini semula ingin melibatkan beberapa peserta dari Kabupaten/Kota se Bandung Raya dan melibatkan komunitas Jaga Seke (jaga sumber mata air) Jawa Barat. Namun situasi saat ini sangat tidak memungkinkan melibatkan banyak orang, dan kegiatan menjadi dibatasi hanya pelaku budaya beserta stakeholder pendukung dari Kota Cimahi. Sebagai catatan semua kegiatan harus mematuhi standar protokol kesehatan Covid-19 dan semua peserta difasilitasi Masker, Face shield, dan sensitizer.

“Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi tanpa mengundang masyarakat untuk menyaksikan secara langsung. Kegiatan ini hanya didokumentasikan lewat video dan masyarakat bisa menyaksikan secara virtual di media sosial,” ungkap Hermana.

Kirab Budaya Ngarak Cai diperlombakan. Tiga orang pengamat menilai15 peserta kirab dari dokumentasi video dan menetapkan 3 peserta terbaik. Sebagai penghargaan, 3 perseta terbaik mendapatkan uang pembinaan dari panitia Festival Air 2020 dan piala serta sartifikat dari pemerintah Kota Cimahi. Agar masuk 3 terbaik, setiap peserta mesti memaksimalkan garapannya, karena kirab budaya ini tidak sekedar berjalan atau karnaval membawa air dari sember mata air di tiap Kelurahan semata.

“Setiap peserta kirab diwajibakan menata gerak, menata musik, menata kostum, menata property (perlengkapan yang dibawanya). Semua dikemas sedimikan rupa sehingga membentuk kesatuan yang utuh dan menjadi tontonan yang menarik, mengedukasi, serta punya keunikan masing-masing,”bebernya.

Hermana juga berharap, kegiatan ini dapat mengedukasi pelaku budaya dan masyarakat kota dalam mejaga tanah, air dan budaya dari berbagai pencemaran. Menjaga tanah dengan menanam puhon untuk menghasilkan oksigen, menyerap racun dan menyimpan air bersih. Menjaga air dengan memelihara kebersihan air tanah, memelihara sumber mata air yang masih ada dan memelihara kebersihan sungai agar tidak tercemar oleh limbah.

Menjaga budaya adalah upaya melestarikan keragaman dan kearifan budaya lokal yang tumbuh, agar budaya asing yang tidak sesuia dengan adab budaya bangsa tidak mendominasi dalam kehidupan masyarakat kita.

“Besar harapan pula kegiatan Kirab Budaya Ngarak Cai bisa dilakukan secara berkseninambungan tiap tahun dan pemerintah Kota Cimahi menetapkan sebagai salah satu icon budaya kota. Hal ini penting untuk mendongkrak kepariwisataan berbasis budaya, karena basis sumber daya alam di Kota Cimahi sangat minim,” pungkas Hermana. (UJANG Dede)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here