Monday, October 26, 2020
Home Beranda MAJAPAHIT SAMA DENGAN WILWATIKTA: POHON MAJA BUKAN POHON BERENUK

MAJAPAHIT SAMA DENGAN WILWATIKTA: POHON MAJA BUKAN POHON BERENUK

0
39
Oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana/The Varman Institute
“Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlaha yan ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wu agheng jaya santosa wruh ngawang kottman ri puyut kalisayan mwang jayacatrumu, ngke pinaka mahaprabhu. Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratanya. Ikang sayogyanya rajyaa Jawa rajya Sunda paras paropasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawartti rajya sowangsong. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duhkantara. Wilwatika sakopayanya maweh caranya mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.” (Naskah Wangsakerta, Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara Parwa II/ Sarga 3)
Menyambung tulisan “Anu Maranggung di Galunggung” karya Agung Ilham Setiadi yang dipublikasikan di grup fb Varman Institute dan kemudian didokumentasikan juga di website Varman Institute, penulis kemudian memperhatikan kalimat dan isi naskah kuno yag dihasilkan dari proses Gotrasawala yang diketuai oleh Pangeran Wangsakerta (Abdulkamil Muhammad Nasarudin) dari Kesultanan Cirebon pada abad ke-17 M (trah Sunan Gunung Djati/Syarif Hidayatullah).
Sebenarnya pada kesempatan ini penulis bukan dalam kapasitas dan keinginan untuk menyoroti aspek validitas material dan formal historisnya yang kabarnya masih merupakan suatu diskursus ilmiah-akademik, melainkan melalui tulisan tersebut penulis menjadi tertarik dalam memahami lebih jauh arti kata “Wilwatika” (kata versi naskah) dalam bahasa Cirebon yang tampak dipengaruhi kuat bahasa Kawi dan bahasa Sanskrit yang merupakan nama yang bersifat lebih berdokumen historis daripada nama Majapahit yang lebih bersifat tradisi lisan.
Sebagai pembuka, baik untuk diceritakan narasi dalam struktur pengetahuan masyarakat Sunda yang merujuk pada beberapa naskah Sunda kuno dan juga Naskah Wangsakerta dari hasil Gotrasawala (temu ilmiah) tersebut. Terceritakan bahwa Prabu Darmasiksa merupakan putra Prabu Darmakusumah. Keduanya merupakan penguasa kerajaan Sunda-Galuh bersatu yang dalam tradisi lisan lebih dikenal sebagai kerajaan Pajajaran.
Ketika Sunda bersatu dengan Galuh, nama resmi yang digunakan dalam dokumen-dokumen kuno sejarah sebenarnya bukan kerajaan Pajajaran melainkan kerajaan Sunda. Meskipun demikian trah penguasa sesungguhnya bergeser dari trah Sunda kepada trah Galuh.
Semenjak supremasi kerajaan Tarumanagara berakhir, wilayah kekuasaan terpecah ke dalam wilayah kekuasaan kerajaan Sunda di Barat dan kerajaan Galuh di Timur. Melalui tali pernikahaan politik kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh kemudian bersatu.
Namun demikian penyatuan antara kedua kerajaan penerus kerajaan Tarumanagara tersebut, terkadang memudar kembali di beberapa masa sebagai konsekuensi dari pembagian hak waris kepada anak-anak raja yang memiliki vitalitas yang sama dan demi untuk menghindari perselisihan.
Pada masa-masa yang lain semangat penyatuan lewat pernikahan antara keturunan penguasa kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh selalu diikhtiarkan terjadi. Dalam kondisi yang sedang memiliki otoritas yang sederajat kerajaan Galuh berdiri sejajar dengan kerajaan Sunda.
Sementara pada setiap peristiwa penyatuan maka kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh bersatu berdiri resmi atas nama dan wibawa kerajaan Sunda. Bahkan ketika pusat kerajaan itu sendiri bukan dioperasikan dari Pakuan (kerajaan Sunda), melaikan dari Kawali (kerajaan Galuh).
Tradisi lisan lewat pantun-pantun yang kemudian hari dituliskan, masyarakat Sunda umumnya lebih mengenalnya bukan dengan nama kerajaan Sunda; melainkan dengan nama kerajaan Pajajaran.
Melalui pernikahannya dengan Putri Suprabha Wijayatunggadewi keturunan dari trah Sangramawijayatunggawarman (1018-1027 M) yang merupakan penguasa kerajaan Sriwijaya, Prabu Darmasiksa (1175-1297 M) memperoleh putra yang bernama Rahiyang Jayagiri yang dikenal juga dengan nama Rahiyang Jayadarma.
Rahiyang Jayadarma merupakan seorang pangeran, raja muda, dan pewaris tahta kerajaan Sunda. Dia memiliki isteri yang bernama Putri Naramurti yang dikenal juga dengan nama Putri Gayatri yang dikenal juga dengan nama Dyah Lembu Tal, puteri dari Mahisa Campaka trah dari Ken Arok dan Ken Dedes yang berkuasa di kerajaan Singasari.
Dari pernikahannya dengan Dyah Lembu Tal, Rakeyan Jayadarma memperoleh seorang anak yang dikenal dengan pada naskah-naskah Jawa kuno dengan nama Nararya Sanggramawijaya atau Kertarajasa Jayawardhana atau Rakeyan Wijaya atau Raden Wijaya atau Jaka Susuruh dari Pajajaran.
Ayah Raden Wijaya, Rakeyan Jayadarma meninggal muda; ibunya kemudian membawa Raden Wijaya pulang ke kampung halamannya di Tumapel. Kemudian hari, kakek dari ayahnya yang dikaruniai umur panjang masih dapat menyaksikan kelahiran kerajaan Wilwatikta (berdiri pada 1293 M) yang lebih dikenal dalam tradisi lisan masyarakat Jawa sebagai kerajaan Majapahit yang dibangun oleh cucunya.
Kepada Prabu Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya), Prabu Guru Darmasiksa Paramarta Sang Mahapurusa (Prabu Darmasiksa) memberikan wejangan kepada cucunya yang tengah melakukan kunjungan:
“Jangan hendaknya anda mengganggu, menyerang, dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada saudaramu, bila kelak aku telah tiada. Sekali pun negaramu telah menjadi besar dan jaya serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, keluarbiasaan, dan keperkasaanmu kelak sebagai raja besar. Ini adalah anugerah dari Yang Maha Esa dan menjadi suratan-Nya. Sudah selayaknya Kerajaan Jawa dan Kerajaan Sunda saling membantu, bekerja sama dan saling mengasihi antara anggota keluarga. Karena itu janganlah berselisih dalam memerintah kerajaan masing-masing. Bila demikian akan mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang sempurna. Bila Kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit.” (Terjemahan Naskah Wangsakerta, Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara Parwa II/ Sarga 3 oleh Saleh Danasasmita)
***
Dalam petikan Naskah Wangsakerta dalam bahasa kuno Cirebon yang terlihat menunjukkan ikatan yang dipengaruhi oleh bahasa kuno Kawi dan bahasa Sanskrit yang masih cukup kental terdapat petikan:
“Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlaha yan ngku wus angemasi….”
(Jangan hendaknya anda mengganggu, menyerang, dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada saudaramu, bila kelak aku telah tiada…) Saleh Danasasmita
Di sini kita menemukan istilah yang berkembang pada masa pembuatan naskah dengan kata Bhumi Sunda sebagaimana yang kemudian dikenal sebagai Tatar Sunda atau Pasundan (Pasundaan).
Kemudian pada kalimat lain selanjutnya:
“…Ikang sayogyanya rajya Jawa rajya Sunda paras paropasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur…”
“…Sudah selayaknya Kerajaan Jawa dan Kerajaan Sunda saling membantu, bekerja sama dan saling mengasihi antara anggota keluarga…” Saleh Danasasmita
Di sini Saleh Dana Sasmita menerjemahkan kata Rajya Jawa Rajya Sunda dengan titik tekan menjadi Kerajaan Jawa Kerajaan Sunda. Jika diterjemahkan lebih lugas istilah yang seharusnya digunakan adalah Raja Jawa Raja Sunda.
Kemudian pada kalimat lain selanjutnya:
“…Yan rajya Sunda duhkantara. Wilwatika sakopayanya maweh caranya mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika…”
“…Bila Kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit…” Saleh Danasasmita
Saleh Danasasmita menerjemahkan dua kali kata Rajya Sunda menjadi Kerajaan Sunda (lugasnya seharusnya Raja Sunda). Kemudian dua kali menerjemahkan kata Wilwatika menjadi Majapahit (lugasnya seharusnya Wilwatika).
Jika kita coba menerjemahkannya dengan cara lebih lugas, terjemahannya akan menjadi:
…Jika Raja Sunda menderita. Wilwatika merusaha dengan caranya, demikian Raja Sunda kepada Wilwatika…
Di sini, Naskah Wangsakerta menggunakan istilah dalam bahasa dokumen-dokumen kuno dengan menamai kerajaan yang berada di Timur wilayah Pulau Jawa tersebut dengan nama kerajaan Wilwatika dan bukan dengan menggunakan bahasa lisan dari tradisi masyarakat Jawa lebih popular di kemudian hari dengan menamainya kerajaan Majapahit.
***
Kata Wilwatika sebagai suatu kesatuan rangkaian kata majemuk dalam bahasa Sanskrit murni tidak didapati dalam dokumen-dokumen Hindu dan kamus-kamus bahasa Sanskrit. Namun demikian memang terdapat kata Vilva (dengan variasi lain Bilva) dan kata Tikta (bukan Tika) yang terdapat dalam dokumen-dokumen Hindu dan kamus-kamus bahasa Sanskrit.
Selain merujuk pada konsep-konsep filosofis dan teologis yang rumit dalam ajaran Hindu, Budha, dan Jain; pada umumnya Vilva atau Bilva memang disepakati merujuk pada spesies tumbuhan yang dalam bahasa ilmiah modern diidentivikasi sebagai pohon Aegle marmelos L. Khusus dalam literatur Hindu keterangan Vilva atau Bilva sebagai tumbuhan tersebut didukung dalam dokumen-dokumeb Hindu seperti pada Natyashastra, Ayurveda, Purana, Itihasa, dan Dharmashastra.
Bahasa Sanskrit menyebutnya Vilva atau Bilva, dalam bahasa Marathi Vilva atau Bilva, dalam bahasa Urdu disebut Bael; dan ada kemungkinan kata tersebut masih sebangun dengan bahasa Bali (Nusantara), yang menyebut pohon serupa sebagai Bila.
Sementara dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa kontemporer, kata Vilva atau Bilva lebih dikena dengan nama Maja (dan tidak dikenali juga istilah Wilwa). Daun dari pohon Maja ini dalam tradisi Hindu dikabarkan terhubung asosiasinya dengan kelengkapan persembahan di kuil-kuil pemujaan Dewa Shiva (Siwa). Sementara Tikta (Naskah Wangsakerta mengucapkannya Tika), dalam bahasa Sanskrit memang artinya pahit atau tidak manis yang dalam bahasa Inggris disebut dengan kata Bitter (Sunda: Pait).
Vilva, Bilva, yang ke dalam lidah Nusantara kemudian menjadi Wilwa dengan demikian adalah pohon Maja (Aegle marmelos L.). Meskipun sepintas memiliki buah pohon yang tampak serupa, namun demikian bukan pohon Maja (Aegle marmelos L.) bukan pohon Berenuk (Crescentia cujete L.).
Hal demikian menjadi penting untuk sedikit diperhatikan karena pada umumnya dalam tradisi lisan keseharian, banyak orang beranggapan jika pohon Maja (buah Maja) dianggap sama dengan pohon Berenuk (buah Berenuk); terutama dalam tradisi lisan masyarakat Sunda.
Ada kemungkinan pohon Berenuk merupakan proses introdusir asal Amerika Tengah dan Amerika Selatan pada masa kolonial untuk kepentingan obat (masih harus diverifikasi lebih lanjut secara historis), termasuk keberadaan pohon Berenuk itu sendiri yang kemudian hari didapati juga di wilayah India itu sendiri.
Sementara pohon Maja dianggap memenuhi syarat untuk bisa dikatakan lebih bersifat asal dari kawasan India dan termasuk asal dari kawasan Nusantara. Pohon Maja tersebut lebih dekat tingkat kekerabatannya dengan pohon Kawista daripada pohon Berenuk, dan sama-sama dapat dimanfaatkan dalam berbagai kepentingan konsumsi yang menyenangkan.
Karena aroma buahnya dianggap harum dan sebagaimana buah Jeruk, buah Maja dapat dibuat sebagai sirup. Dalam bahasa Inggris, buah Maja tersebut lebih dikenal dengan nama Wood Apple. (Aegle marmelos at Narendrapur near Kolkata, West Bengal, India. By J.M.Garg. 02-02-08.)
Image may contain: fruit, plant, outdoor and food

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here