Mencari Sunda

0
44
Persiapan Kongres Sunda 2020/foto andi sopiandi

SUNDANESIA – Sebuah pertemuan yang akan menuju Kongres Sunda 2020 kerjasama dengan Koran GALURA pada Selasa, 10 Maret 2020 menggelar “Sawala Kaum Budayawan”. Para narasumber  diantarnya Satrawan Senior Tatang Sumarsono dan Abah Dasep Arifin dari praktisi Penca Cimande dari Subang. Hadir juga acara tersebut sekitar 60 undangan dari berbagai daerah antara lain Wahyu Effendi Guru Kudjang Teupa dari Bogor, Wawan Renggo Patih Lembaga Adat Karatwan Galuh Pakuan Subang, Asep Kadar Soleh Praktisi Penca dari Garoet, Abah Awie dari Kabupaten Bandung, Hermana HMT ketua Dewan Kebudayaan Cimahi, Asep Tutuy Turyana Presiden Komunitas Asep Asep, Kyai Matdon, Aendra Medita Pakar Geo Strategis, Iip D Yahya Penulis Biografi Ottista, Dr Usman Supendi, Dr Suhendi Afriyanto Wakil Rektor III ISBI , Anggota DPR RI Dapil Kabupaten Bogor Mulyadi, budayawan senior Memet H.Hamdan, dan Us Tiarsa Pemred Bandung TV.

Sawala Budayawan ini difokuskan untuk membahas agenda 1 Kongres Adeg Adeg dan Tangtungan Sunda atau Jati Diri Sunda yang selama ini dalam kongres atau konferensi kasundaan belum pernah diwacanakan kembali restorasi dan revitalisasinya pasca Kongres Pemuda Sunda 1956, padahal bangsa yang maju tergantung pada kejelasan dan fondasi jati dirinya (spiritualitasnya), baru kepada masalah etika, estetika dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tatang Sumarsono  mengatakan sebenarnya kalau merujuk pada Kitab Siska Kandang Karesian 1518 M sebelum Prabu Siliwangi mangkat telah dirumuskan sifat sifat kepemimpinan unggul Sunda yang dikenal “Pangimbuh Ning Twah ” (sikap hidup agar dalam menjalani kehidupan memiliki pamor) : (1) emet (2) imeut (3) rajeun (4) leukeun (5) pakapradana (punya percaya diri) (6) morogol rogol (bersemangat tinggi) (7) purusa ning sa (berani menegakkan kebenaran /sikap kepahlawanan), (8) Widagda (matang pertimbangannya /bijaksana), (9) karawaleya (mau membantu pihak yang kesusahan) (10) Gapitan (berani mengambil resiko dalam mewujudkan cita cita) (11) cangcingan (cekatan dan tidak mudah patah semangat) (12) langsitan (mampu mengambil peluang). Sikap Sikap ini dan Kebudayaan yang masih hidup di masyarakat sunda saat ini (living culture) yang harus mampu dieksplorasi kembali, direstorasi dan direvitalisasi bila itu budaya positif dan disosialisasi melalui semua perangkat sosial Kebudayaan untuk menjadi kekuatan Spirit sunda melompat maju melewati pesaing pesaingnya baik dengan melakukan kerjasama maupun kompetisi berhadap hadapan.

Merujuk pada budaya Sunda yang hidup termasuk dari ajaran agama islam dalam Diskusi Mapag Kongres Sunda diusulkan dibangun namanya Jati Diri Sunda atas 4 (empat) sikap mental unggul ” Catur Watak Satria Sunda ” yaitu (1) jujur (Shiddig dan amanah) (2) leber wawanen (ludeung, gapitan, morogol rogol, pakapradana) (3) Jembar manah (berehan, widagda (bijaksana), henteu aralan) (4) perceka (ilmuna luhung, professional, dan komunikatif), perceka ini adalah gelar yang diberikan kepada PM DJUANDA KARTAWIJAYA sebagai Contoh Tokoh Unggul yang mampu punya pikiran visioner sehingga NKRI dua kali lebih luas dari Proklamasi melalui Wawasan Nusantara dan konsep negara kepulauan.

Dalam catatan penting apakah saat ini urang Sunda sedang mencari Sunda? Mari coba kita tenggok bahwa yang disebut orang asli atau penduduk asli adalah masyarakat yang merupakan keturunan penduduk awal dari suatu tempat, dan ia telah membangun kebudayaannya di tempat tersebut dengan status asli (indigenous) sebagai kelompok etnis yang bukan pendatang dari daerah lainnya.

Sunda adalah yang seperti itu. Kekuatan Sunda dalam sejarah besar adalah Sunda yang luas. Tanah batavia adalah Sunda kelapa. Masyarakat pribumi di Amerika Serikat adalah bangsa Indian, suku Maori di Selandia Baru, Aborigin di Australia, dan suku Ainu di Jepang. Literasi bahwa masyarakat pribumi bersifat autochton (melekat pada suatu tempat), sementara kumpulan masyarakat perantauan dari kelompok etnis tertentu—yang telah lama meninggalkan tanah leluhurnya—disebut diaspora. Contoh orang Tionghoa-Indonesia, Jepang-Amerika, dan Yahudi-Rusia.

Di beberapa negara, kelompok orang asli terbagi ke dalam beberapa suku bangsa. Sebagai contoh, di Tiongkok (Cina), terdapat puluhan suku bangsa; yang terbanyak ialah suku Han yang merupakan orang asli Tiongkok dengan persentase 91,51% dari total seluruh penduduk Tiongkok (catatan sejak 2010). Meskipun ada 56 suku terdaftar yang diakui pemerintahnya, tidak semuanya merupakan pribumi Tiongkok; beberapa minoritas berasal dari Rusia, Korea, dan Tajikistan.

Di Indonesia terdapat ratusan suku bangsa yang bukan berasal dari luar Nusantara, yang disebut Pribumi-Nusantara; mayoritas merupakan suku Jawa dengan jumlah sekitar 95 juta jiwa, disusul oleh suku Sunda, Batak, dan Madura.

Dalam tatanan lain bahwa kini Suku Sunda yang ada di Jawa Barat– yang sebenarnya sudah tidak di bagian barat jawa, karena ada provinsi Banten — maka dalam rangka kongres Sunda pertama mendatang. Apakah orang Sunda sedang mencari Jati diri Bangsa atau sedang dalam upaya Sunda agar punya pamor? Maka jika demikian apakah perlu memang Provinsi Sunda di nyatakan atau sekadar wacana dalam rumusan?

Mencari Sunda perlu perjuangan yang tidak sekadar wacana maka carilah Sunda seperti kekuata jiwa-jiwa yang menjaga martabat leluhurnya. (ahm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here