DUA SEJOLI MENGUAK MISTERI SENGKETA NEGERI BUMI PERTIWI

0
290

OLEH KI SUNDA (ABAH CECEP)

Diskusi geopolitik yang berjudul: Indonesia dan ketergantungan Politik dunia : energi & Pangan yang di paparkan oleh dua nara sumber (Kang Aendra Medita dan Mas Hendrajit ) yang menggambarkan kondisi yang terjadi di bumi Nusantara ini cukup memberikan pencerahan yang membuat para peserta diskusi menjadi antusias untuk terlibat dalam wacana diskusi, baik dalam pertanyaan maupun tambahan atau penguatan dan juga sedikit sanggahan mengenai isi pemateri siang itu.

Mas Hendrajit dengan gamblang menggambarkan kondisi geopolitik negeri ini dengan penuh semangat , bagaimana masyarakat negeri ini dipermainkan olehh para pemimpinnya yang sudah kelabakan di permainkan oleh para cukong dan kacung kacung kapitalis asing yang mengangkangi hampir semua bumi.

Lahan kehidupan yang seharusnya untuk hajat hidup masyarakat negeri ini hampir habis dikuasai oleh asing aseng, padahal seharusnya ini harus dikelola oleh penguasa negeri ini malah sebaliknya ini ditelantarkann bahkan di obral dan di ubrak abrik menjadi bahan bahan bisnis yang hanya mengedepankan para cukong dan konglomerat asing yang membawa kekuatan politik asing yang dicurigai bahkan diyakini akan merebut dan menguasai semua lahan negeri ini untuk kepentingan negerinya.

Pada prinsipnya Mas Hendrjit memaparkan pandangannya mengenai kondisi negeri ini bahwa untuk mengusai negeri ini tidak harus dengan ekspansi militer dan kekuatan fisik tetapi melalui hukum dan budaya, negeri ini bisa dikuasai dan itu saat ini sudah terjadi.

Pemaparan Mas Hendrajit di hari Minggu taanggal 18 Agustus 2019 ini menjadi pencerahan kesadaran bagi peserta diskusi bahwa kita semua memang lagi di bingungkan atau dibegokan Kalau dalam Bahasa akrab orang Sunda.

Masyarakat negeri dari mulai presiden sampai dengan gelandangan dibawah jembatan ini hampir semuanya seperti “Cileupeung “(lebih halus dari kata Tolol) tidak memahami kenyataan negerinya sendiri . Semua Ilmu Kebijakan hanya sampai diwacana, aplikasinya jeblog hampir kosong tiada arti.

Mas Hendrajit menyadarkan posisi kita pada saat ini. Betapa cileupeungnya kita semua. Memang menyedihkan kenyataan negeri ini apalagi pada sesi selanjutnya saudara Aendra atau yang akrab di panggil Kang Aendra memaparkan kondisi kekayaan lahan negeri ini yang diisebutkan letak letak lokasinya yang sudah mulai diincer oleh pihak cukong cukong asing bahkan sudah dikuasai sebagian besarnya.

Hampir semua peserta terutama emak emak dan teteh teteh menjadi semakin kelihatan gemes untuk mengungkapkan uneg uneg kejengkelannya. Ekpresi Bahasa tubuh dan bisik bisiknya memperlihatkan antusias untuk terlibat dalam semangat diskusi menjelang sore itu.

Apalagi ketika mendengar beberapa lahan kekayaan yang ada disekitar daerah Jawa Barat (Parahiangan) dan ada tokoh raja penyamun eh maksudnya rajanya Sembilan naga yang berasal dari daerah Pasundan Soreang yang bersahabat dengan salah seorang haji di daerah tersebut….peserta diskusi termasuk saya (Penulis) menjadi ikut geregetan untuk mengungkapkan uneg uneg yang bertumpuk di pikiran dalam menghadapi kenyataan negeri ini apalagi di yang dibicarakan lahan yang ada disekitar Parahyangan (JABAR).

Makanya ketika sesi Tanya jawab di gulirkan hampir semua peserta serentak ingin memberikan masukan dan pertanyaan dalam moment diskusi saat itu. Mereka mengacungkan tangannya berharap diberikan waktu untuk menyatakan pendapat dan pertanyaannya. Sesi tanya jawabpun berlangsung yang dibagi dalam dua termin.

Termin pertama di jawab dan ditanggapi dengan lancar oleh kedua pemateri tapi di termin terahir Ibu penyelenggara memberikan isyarat agar sesi tanya jawab ini di batasi karena waktu yang sanggat terbatas. Sedangkan peserta yang ingin berpendapat cukup banyak . sehingga sang Moderator om Paskah Irianto kelihatan agak repot tapi dengan piawai om moderator Paskah Irianto ini dapat menyelesaikan diskusi ini dengan lancar.

Terlihat semua masih penasaran bahkan ada dari salah satu peserta emak emak yang antusia agar acara seperti ini diselenggaran di kampus kampus. Sehingga ibu panitia penyelenggarapun menjanjikan akan mengadakan acara seperti ini sebulan sekali.

Bagus tuh Alhamdulillan saya pun kebagian waktu untuk bertanya dan mengeluarkan uneg uneg yang bertumpuk dalam pikiran untuk mengomentari, menanyakan dan ingin memberi pendapat walaupun yang keluar adalah klimaks ke unek unekannya, yaitu tentang PERTANYAAN BAIK BURUKNYA REFERENDUM atau yang lebih sederhananya menjadi negara bagian… Sayang pertanyaan tersebut tidak terjawab.

Mudah mudahan hal itu memang karena waktu yang terbatas bukan karena takut memaparkan hal tersebut . Tapi kalau Mas Hendrajit atau Kang Aendra Takut itu tidak mungkin. Karena Diskusi adalah ruang keilmuan segala hal tetek bengek persoalan dapat dibedah dan dibicarakan asal tema dan koridor pembahasannya nyambung. Referendum adalah masalah Geopolitik.. Geopolitik, dari bahasa Yunani Geo (bumi) dan politik (kekuasaan) secara luas merujuk pada hubungan antara politik dan teritori dalam skala lokal atau internasional.

Geopolitik mencakup praktik analisis, prasyarat, perkiraan, dan pemakaian kekuatan politik terhadap suatu wilayah. Secara spesifik, geopolitik merupakan metode analisis kebijakan luar negeri yang berupaya memahami, menjelaskan, dan memperkirakan perilaku politik internasional dalam variabel geografi.

Variabel geografi tersebut umumnya mengarah pada: lokasi geografis negara atau negara yang dipertanyakan, ukuran negara yang terlibat, iklim wilayah tempat negara tersebut berada, topografi wilayah, demografi, sumber daya alam, dan perkembangan teknologi, Secara tradisional, istilah ini lebih digunakan pada dampak geografi terhadap politik, namun pemakaiannya telah berubah dalam satu abad terakhir untuk mencakup konotasi yang lebih luas.

Jadi Suatu peristiwa Referendum adalah peristiwa geopolitik suatu masyarakat daerah tertentu yang ingin memisahkan wilayah geografisnya dari Kekuasaan politik suatu system tatanan negara tertentu. Mas Hendrajit sempat melontarkan bahwa eropa itu walaupun terpisah dengan berbagai nama negara seperti Inggris Perancis Belanda dll, tetapi mereka sebenarnnya Bersatu dengan semangat Romawinya dan Indonesia Bersatu dengan Semangat Pancasilanya.

Jadi kalaupun peristiwa referendum itu terjadi SEMANGAT Pancasila masih sangat mungkin dapat dijadikan alat pemersatu Nusantara ini,walaupun masing masing kebijakan wilayah hasil referendum mempunyai ke khasan yang disesuaikan dengan kearifan dan keyakinan masyarakat masing masing… Sayang hal ini tidak dibedah lebih lanjut karena memamg waktu yang membatasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here