PEMBUNUHAN KREATIFITAS DI TANAH PASUNDAN

0
147
Ki Sunda Abah Cecep

OLEH Ki Sunda Abah Cecep

Mengulas kembali pernyataan sikap Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil beberapa waktu kebelakang yang mengatakan bahwa SMK di Jawa Barat akan ditutup karena hanya menghasilkan produk manusia yang tidak berkualitas yang akhirnya tidak terserap dalam kompetisi pigur pekerja yang baik alias pengangguran.

Ini menohok dan mengejutkan, apalagi bagi para civitas akademika yang ada di lingkungan Pendidikan SMK baik siswa dan orang tuanya, para guru mengkerutkan dahinya apalagi Kepala sekolahnya.

Menggelisahkan dan menyakitkan, -Memang menyedihkan…segala kelelahan dan kesungguhan para pendidik dan orang tua menjadi tidak ada harganya. Akhirnya muncul berbagai pernyataan dan pertanyaan dari berbagai kalangan. Apa penyebabnya ?

Prediksi dan pendapatpun menjadi berkembang bahkan seperti bola liar
Ada yang menyatakan bahwa ini karena sekolah SMK terlalu banyak. Ada juga yang berpendapat bahwa hal ini disebabkan siswa siswi terlalau asik dengan dunia online yang sekarang tidak bisa tidak menjadi kegiatan paling menyita waktu mereka, baik disekolah apalagi di rumahnya.

Ada juga masyarakat yang mengintip isu dengan mengatakan bahwa ini disebabkan guru gurunya sibuk ngurusin administrasi untuk mendapatkan sertifikasi guru yang akhirnya siswa siswinya terbengkalai karena mereka (para guru) hadir di kelas hanya formalitas saja yang penting absen kehadiran tatapmuka terpenuhi 24 jam seminggu.

Semua sibuk ngurusin Administrasi guru karena selalu lupa cara membuatnya padahal hampir tiap tahun ada IHT (In House Training) ketika ditanya oleh pemateri tentangg IHT tahun lalu hampir semua tidak bisa menjawab. Sikap formalistik hampir menjadi karakter jamaah para pendidik masa kini – padahal sikap formalistic yang kaku warisan MAX WEBER (Prilaku Birokrat Indonesia tahun 70 – 80an) ini 20 tahun yang lalu harus sudah ditinggalkan.

Namun dari berbagai pernyataan dan pertanyaan masyarakat mengenai kwalitas lulusan SMK tersebut, ada pernyataan berupa pertanyaan yang agak RASIS dan mengkhawatirkan yaitu. Kenapa sekolah sekolah Swasta Yayasan Agama Non Islam jarang bahkan tidak membuat sekolah Kejuruan atau SMK? Dimana kebanyakan siswanya berasal dari masyarakat non Pribumi.

Ada Rencana Apa mereka? Ini pernyataan dari pertanyaan seremnya.
Pernyataan terahir tadi sebetulnya tidak nyambung dengan persoalan yang seharusnya di lontarkan, tapi itulah mungkin hikmah dari Pernyataan Gubernur JABAR yang mau membubarkan SMK sehingga masyarakat menjadi kreatif untuk berpikir bahkan agak sedikit liar.

Tetapi dari semua respon pendapat masyarakat yang beragam mengenai pernyataan Gubernur JABAR tersebut, secara resmi sudah dibantah oleh beberapa kepala sekolah yang ada di Jawa Barat, khususnya dari salah satu kepala sekolah SMK yang ada di sekitar Bandung Raya.

Tetapi dari kenyataan diatas tadi Ada beberapa hal yg patut kita renungkan.
Seburuk apapun pemimpin masyarakat Sunda ini, untuk sementara patut kita apresiasi terlebih dahulu, kenapa pernyataan itu harus muncul dari lidah seorang pigur masyarakat seperti ini?

Terlalu instan kalau kita menilai pernyataannya itu sebagai pernyataan omong kosong atau bahkan curi adegan, dimana kondisi sekolah khususnya SMK yg menghasilkan lulusan yang cenderung hanya memberikan kontribusi yg memprihatinkan yakni hanya menghasilkan prosentase pengangguran yg paling banyak.

Ya atau tidak kenyataan ini perlu kita terlebih dahulu mengkaji pernyataan tokoh Pendidikan dibawah ini.

Sir Ken Robinson, profesor pakar pendidikan dan kreativitas dari Inggris, dalam orasi-orasinya, yang menyentakkan ironisme: menggambarkan betapa sekarang ini sudah terjadi inflasi gelar akademis sehingga ketersediaannya melampaui tingkat kebutuhan. Akibatnya, nilainya di dunia kerja semakin merosot.

Lebih dari itu, ia menilai sekolah-sekolah hanya “membunuh kreativitas” para siswa. Maka, harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang “lebih mengutamakan pembangunan kreativitas”.

Membunuh kreativitas?

Kalimat ini cukup sarkas, khususnya apabila ditujukan pada lingkungan Pendidikan sekolah kita, “menyinggung dan kurang etis kalimat itu kalau dilontarkan dalam forum Pendidikan ketimuran seperti halnya di Indonesia khususnya di Jawa Barat yang mayoritas penuh kesantunan dan religious Islami. Tetapi tuntutan dunia ilmiah yang mengedepankan relitas keilmuan harus menerima terlebih dahulu pernyataan kalimat tersebut, betul tidaknya harus kita amati serta dikaji secara arif dan bijaksana, Ya atau tidak kalau di SMK itu ada kejadian pembunuhan kreatifitas?

Apabila kita kaji dan amati kenyataan di lingkungan sekolah di negeri ini, mungkin tidak hanya SMK yang mengedepankan Pola Pendidikan Pokasional, tetapi juga SMA dan yang sederajat ada beberapa factor didalamnya yang mungkin menjadi salah satu sebab dari beberapa sebab hilangnya kemampuan manusia untuk kreatif (terbunuh kemampuan kreatifitasnya).

Dimana sebetulnya materi Pendidikan untuk membangun kreativitas itu berada?.
Hampir disemua mata pelajaran sebetulnya ada ruang ruang untuk membangun kreativitas apalagi dengan system kurikulum 2013 KURTILAS yang lebh mengedepankan kemampuan motoric siswa untuk lebih mempunyai kemampuan menjadi manusia yang inovatif dan mandiri. Namun dari beberapa mata pelajaran tersebut, mungkin bahkan kenyataannya kalau mata Pelajaran Kesenian merupakan mata pelajaran yang cenderung mengasah kamampuan siswa untuk lebih menjadi manusia yang kreatif.

Walaupun hal ini tergantung pula kemampuan kreativitas guru (pendidik) yang mengarahkan dan membina siswanya untuk kreatif. Hal yang sudah umum diketahui di kalangan kaum creator seni akademis bahwa dalam ilmu seni ada materi pengetahuan yang harus di ketahui bagi seorang creator seni (seniman) yaitu Pengetahuan Kreativitas (Primadi Seni rupa ITB).

Jadi sebetulnya Seni merupakan media Pendidikan yang akan lebih mengedepankan kemampuan siswa untuk kreatif. Tetapi sayang dua tahun belakangan ini mata pelajaran seni di SMK sudah mulai di kurangi bahkan untuk tahun ajaran sekarang pelajaran seni hanya di berikan di kelas X (sepuluh) saja.

Ini kenyataan yang terjadi bahwa di dalam dunia Pendidikan kita saat ini khususnya SMK, dimana ada mata pelajaran kreativitas yang dibunuh (maaf) – dihilangkan- khususnya di kelas XI dan XII jenjang Pendidikan SMK .

Apakah Dalam dua tahun ini sudah ada dampaknya bagi siswa siswi lulusan SMK kalau kemampuan kreatifitasnya lemah.

Pernyataan Gubernur Jabar tersebut patut kita kaji kembali kebenarannya.

*)seorang pendidik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here