Nitizen Sherly Mematahkan Keterangan Ahli Prof. Eddy O.S. Hiariej Tentang Kasus Pencurian Baju Besi

0
84
Sidang di MK /ist

Oleh Gan-Gan R.A

Salah satu Ahli yang dihadirkan Pihak Terkait TKN 01 dalam proses sidang sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK) adalah pakar hukum pidana dari kampus UGM Yogyakarta, yakni Prof. Eddy O.S. Hiariej. Dalam kesaksiannya, Prof. Eddy memaparkan tentang kisah baju besi milik Sayyidina Ali (seharusnya milik Umar bin Khattab) yang dicuri oleh seorang Yahudi (seharusnya seorang kafir Quraisy).

Ilustrasi kisah tentang kasus pencurian baju perang pada zaman Rasulullah SAW (kisah tersebut terjadi di zaman kekhalifahan, bukan di zaman Rasulullah SAW) yang disampaikan Prof. Eddy O.S. Hiariej sempat dikoreksi oleh Nasrullah, advokat tim kuasa hukum Pemohon 02. Menurut Nasrullah, baju besi yang dicuri tersebut sesungguhnya bukan milik Umar bin Khattab, melainkan milik Sayyidina Ali. Prof. Eddy pun segera meralatnya dan meminta maaf atas kesalahan informasi yang disampaikannya.

Koreksi atas kesalahan informasi yang disampaikan Prof Eddy O.S. Hiariej kemudian menjadi viral di media sosial, Twitter dan IG ketika seorang Nitizen asal Aceh bernama Sherly Annavita (anak muda milenial syar’i yang cerdas, kritis & cantik) mengkritik dan mengoreksi ilustrasi kisah yang dipaparkan Prof Eddy sebagai Ahli dari Pihak Terkait di sidang MK.

Di akun instagramnya @serlyannvita menemukan 5 identifikasi kesalahan fatal terkait ilustrasi kisah kasus pencurian baju besi yang disampaikan oleh Prof Eddy O.S. Hiariej.

Koreksi Sherly Annavita menjelaskan secara detail perihal ditemukannya 5 identifikasi kesalahan fatal dari kisah kasus pencurian baju besi tersebut versi pemaparan keterangan Ahli Prof. Eddy di sidang MK, sebagaimana ditulis di akun instagramnya.

Inilah 5 identifikasi Nitizen Sherly sebagai kritik dan koreksi yang ditujukan kepada pakar hukum pidana Prof. Eddy O.S. Hiariej:

1. Beliau salah mengidentifikasi Tergugat. Harusnya seorang Yahudi namun beliau sebut kafir Quraisy.

2. Beliau salah mengidentifikasi Penggugat, harusnya Sayyidina Ali namun beliau sebut Umar bin Khatab.

3. Beliau salah mengidentifikasi Hakim, harusnya bernama Syuraih, namun beliau sebut Rasulullah SAW.

4. Beliau salah mengidentifikasi waktu. Harusnya pada kekhalifahan, yang artinya di masa setelah Rasul wafat, namun beliau sebut di masa Rasulullah.

5. Beliau salah identifikat TKP. Ada riwayat di Madinah, ada riwayat di Kuffah. Namun beliau sebut di Mekkah.

Menurut Sherly, sangat disayangkan seorang Professor dalam kapasitasnya sebagai Ahli di sidang sengketa PHPU di MK yang dihadirkan TKN 01 untuk memberikan keterangan berdasarkan kualitas disiplin keilmuannya, di mana Prof. Eddy telah melakukan kasalahan fatal menceritakan kisah hukum yang sangat termashur dan banyak dikutip oleh banyak tokoh sebagai rujukan putusan hakim yang adil dalam memutuskan perkara.

***

Saya tidak sepenuhnya percaya tentang distorsi informatif yang disampaikan Prof. Eddy O.S Hiariej masuk kategori human eror. Tapi lebih kepada menggiring second opinion & memperkuat dalil serta mengokohkan argumentasi hukum demi kepentingan klien. Ini sah-sah saja sebagai taktik memenangkan pertempuran perkara dalam persidangan. Namun membelokkan sejarah adalah cara yang tidak terhormat bagi seorang intelektual level Professor.

Sebagai pakar hukum pidana yang banyak menulis buku-buku hukum progresif, saya selalu mengikuti perkembangan pikiran Prof. Eddy melalui buku, jurnal dan artikel hukum yang ditulisnya di berbagai media massa. Terakhir, Prof. Eddy memukau Majelis Hakim, JPU & Tim Lawyer pada persidangan kasus kematian Mirna “Kopi Vietnam Jessica” melalui penemuan hukum dalam teori yang dipaparkannya, “Pembunuhan berencana tidak membutuhkan motif. ”

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin menorehkan sebaris kalimat tentang pentingnya memahami sejarah yang saya tulis sekitar tahun 1998-1999 ketika masih berambut gondrong & berdomisili di Bandung, “Orang yang tidak menghikmati kesalahan masa lalu, dia akan dikutuk oleh masa depan untuk mengulanginya pada masa kini. ”

Panglima Polim, Tangerang, Juni 2019

Penulis, Lawyer & Entrepreneur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here