JAWA BARAT WILAYAH YANG LEBIH SIAP KALAU ISU REFERENDUM ITU TERJADI

0
157

Pengantar:

Dari tulisan ini menarik sebagai bekal saja. Seandainya referendum ada, karena isu ini sempat menaikan sejumlah daerah berkomentar. Pemikiran yang paling siap adalah Jawa Barat. Dan semoga tidka terjadi.

-Redaksi


(Jadi atau tidak jadinya referendum kita harus siap dan menyiapkan diri)

Kalaulah isu Referendum seluruh Indonesia itu memang harus terjadi
… yang akan paling diuntungkan adalah Masyarakat Sunda (Jawa Barat) karena akan memiiliki ibukota yang sudah jelas sejarahnya bahwa itu milik masyarakat Sunda yaitu Sunda Kalapa ( Jakarta) dimana pasilitas inprastrukturnya sudah jauh melampoi batas kota kota diseluruh bekas wilayah Indonesia.

Di tambah juga kota Bandung. Suatu kota yang menghasilkan produk-produk manusia yang berkwalitas yang selama ini dibutuhkan oleh seluruh masyarakat di seluruh Indonesia. Contohnya STPDN, SESKOAD, ITB, UNPAD, dll.

Untuk itu kepada Masyarakat Sunda (Jawa Barat) kalaulah Referendum itu memang harus terjadi. Mari kita sambut dengan gembira dan senang hati. Kita rayakan perubahan yang mengembirakan tersebut diseluruh pelosok negeri Parahyangan .
Kita tinggal memilih siapa pemimpin kita

Maaf kepada Kang Rika kalau Masyarakat Pasundan harus referendum tidak otomatis akang jadi pemimpin masyarakat Parahiangan. Ya bolehlah setahun kang Rika Memimpin hitung-hitung sebagai panitia Carteker dalam membuat Musyawarah Pemilihan Pemimpin Masyarakat Parahiangan (Pasundan).

Terserah nantinya mau pakai nama Presiden, Perdana Menteri, Sultan (kalau Ada) dll… yang pasti penentuan pilihan pemimppin itu betul betul harus bersih dari Moneypolitik, jangan seperti saat ini blingsatan gak karuan.

Referendum bagi kita bukan suatu yang harus di takutkan tetapi suatu hal yang harus disayangkan.maksudnya… Kok sudah sekian puluh tahun kita babarengan dalam menghidupkan kebersamaan bernegara tapi hanya karena keteledora pemimpin yang terlalu polos yang bisa dibikin ini atau itu oleh dalang atau sautradara (actor intelektual),kita harus berahir dengan bubaran tanpa kejelasan.

Tetapi “ya sudahlah” kalau memang kita harus bubar gak apa apa. Sepertinya bagi masyarakat Parahyangan hal ini bukan suatu persoalan yang rumit tapi akan dijalani seperti air mengalir. Hal ini sesuai dengan ciri khas yang menonjol dalam filosopis masyarakat Sunda (Jawa Barat). Bahwa air merupakan sumber kehidupan dan inspirasi filsapat hidup masyarakat Pasundan di Jawa Barat. Makanya hampir semua nama tempat atau nama sungai di awali dengan nama air atau “ci”

Yang paling penting Dalam menghadapi isu Refeendum ini, Yang harus diperhatikan oleh kita (Masyarakat Sunda Jawa Barat) adalah bagaimana kekuatan advokasi hukum kita mengenai status wilayah yang secara fakta dan nama tempat berada di wilayah administrasi tata kelola manajemen masyarakat Sunda di Jawa Barat dan sekitarnya. Sederhananya wilayah dengan nama yang diawali kata “Ci” (air) baik nama tempat kota desa kampung dll dan juga nama sungai yang ada disekitar lokasi tempat tertentu.. itu adalah wilayah yang tatakelolanya mempunyai sejarah secara hukum berada dalam wilayah kuasa hukum pengelolaan masyarakat Sunda (Pemerintahan Parahiangan).

Mulai saat ini kita (masyarakat Sunda Jawa Barat) harus sudah mengantisipasi persoalan persoalan yang muncul dipermukaan, hindari konplik social antara masyarakat tertentu (sesama Masyarakat yangberada di wilayah Pasundan) yang hanya akan menimbulkan status pemisahan yang diinginkan oleh golongan tertentu sehingga secara sugesti masa, kita(masyarakat Sunda Jawa Barat) menjadi merasa tidak memiliki tanah airnya sendiri.

Seperti contohnya konplik Jack mania (Persija) dengan Viking ( Persib) yang sampai sekarang hubungannya seperti menjadi budaya permusuhan yang dianggap wajar padahal itu sangat mungkin merupakan rekayasa hebat dari kekuatan tertentu dan dapat memisahkan suatu wilayah kekuasaan.

Atau contoh lain yang berhubungan dengan sejarah yang bisa memunculkan rendahnya rasa kepemilikan tanah.

Atau contoh lain yang berhubungan dengan sejarah yang bisa memunculkan rendahnya rasa kepemilikan tanah airnya sendiri. Tapi alhamdulillah pada saat ini doktrin sejarah itu sudah diakui secara akademis tidak mempunyai kekuatan data yang argumentatif
sejarah tersebut yang berasal dari teori rumpun Bahasa yang memvonis bahwa masyarakat Indonesia (yang akhirnya disamaratakan juga dengan masyarakat Sunda) sebagai masyarakat yang berasal dari daerah tanah China Selatan atau Yunan Selatan. (dengan doktrin kegagahan yang semu menyebrangi lautan menggunakan perahu sampan dan rakit sehingga melahirkan lagu heroic yang semu yakni lahirnya lagu “Nenek moyangku orang pelaut”) – ini adalah fakta sejarah yang sangat lemah dan dibuat buat yang hanya akan mensugesti bahwamasyarakat Indonesia -JawaBarat khususnya- untuk merasa menjadi kaum pendatang ditanah airnya sendiri, hal ini merupakan rekayasa tertentu untuk mensugesti Masyarakat Sunda khususnya supaya merasa tidak memiliki tanah airnya sendiri.

Seperti yang saya ungkapkan diatas Alhamdulillah sejarah konyol itu secara akademis tidak diakui lagi sebagai sejarah keilmuan tapi merupakan presentasi keilmuan dari sosok sosok ilmuan untuk kepentingan golongan tertentu yang tidak bertanggung jawab.
Bahkan munkin mulai saat ini sudah harus melakukan kajian kajian keilmuan yang harus dipersiapkan dalam menghadapi lahirnya gejolak nasional Referendum khusunya mengenai berbagai rekayasa pemisahan kekuasaan.

Seperti halnya usulan pemekaran wilayah baik tingkat propinsi, kota, kecamatan, desa dan lainnya. Seperti terpisahnya Banten menjadi propinsi tersendiri atau isu Cirebon yang akan memisahkan diri menjadi propinsi diluar Parahiangan (Jawa Barat). Hal hal seperti ini harus sudah di mulai kajian kajian ilmiahnya untuk mengantisipasi kemungkinan kemungkinan isu Referendum itu terjadi.

Masyarakat Pasundan di Jawa Barat harus sudah lebih siap menghadapinya. Jangan sampai menjadi penonton konplik perubahan yang HOKCAY (Hokcay = colohok dan ngacai artinya terpaku dan meneteskan air liur)di rumahnya sendiri. ( kita menonton Orang orang bertengkar dirumah kita sendiri memperebutkan istri kita-ibu pertiwi)

Kembali kepada isu referendum yang sekarang lagi ramai dibicarakan di berbagai obrolan masyarakat baik awam maupun ilmuwan. Baik yang menganggap itu isu atau juga kenyataan.. seperti halnya pernyataan salah seorang professor (yang katanya isu – mungkin hoax- gajihnya 100 juta perbulan yang kerjanya hanya sebagai penjaga gawang kekuasaan) menyatakan dengan ringan bahwa referendum itu hanya isu isu media social yang tidak bertanggung jawab.

Tuan professor itu tidak menyadari bahwa bangsa dinegeri ini bangsa dengan berbagai kemampuan imajinasinya yang sangat tinggi – walaupun referendum itu hanya isu tapi hal itu muncul terinspirasi dari kacaunya kekuasaan yang saat ini sedang memuncak keanehannya dan itu dijaga oleh celoteh celoteh para predikat ilmuwan (professor,doctor dll) dimanamereka sedang menjabat di sekitar kekuasaan contohnya penjaga gawang professor itu yang kata isu dapat gaji perbulan 100juta.- wow cukup masuk akal kalau kemampuan nalarnya di simpangkan demi uang yang cukup besar tersebut.

Tetapi yang jelas untuk masyarakat pasundan di Jawa Barat Isu Referendum itu harus di hadapi dengan tenang tapi juga siap segala sesuatunya.

Jadi atau tidak jadinya referendum kita harus siap dan menyiapkan diri.

KI Sunda Cecep Hidayat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here