Sejarah Gedung YPK, Tempat Seniman, Budayawan, dan Insan Pers

0
234
Gedung YPK Jalan Naripan zaman dahulu bernama Oens Gnogen, salah satu tempat bertemunya tokoh-tokoh pergerakan. Foto idiambil sekitar tahun 1920 oleh walikota Bandung saat itu B. Coops. /istimewa

SUNDANESIA.CO.ID – Ini kisah soal Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK). Di gedung ini banyak sejarah telah tercatat. Mulai soal seniman, budayawan dan sejarah pers Indonesia. Baiklah kita mulai dari sebuah kelompok drama yang salah satunya ada nama Suyatna Anirun. Semua tahu dan kenal Suyatna Anirun di dunia teater Indonesia.

Ia dikenal sebagai Suhu Teater Indonesia terutama di bidang keaktoran. Sebutan yang muncul karena dedikasinya yang tak pernah putus pada teater Indonesia.

Suyatna lahir di Bandung 20 Juli 1936 dan meninggal 11 Januari 2002. Bergaul dengan dunia drama atau teater sejak masih menjadi pelajar di SLA, sejak itu teater tidak pernah lepas dari kehidupannya. 

Pada 30 Oktober 1958, ketika kuliah di Departemen Seni Rupa ITB mendirikan Studiklub Teater Bandung, bersama-sama dengan Jim (Lim) Adilimas (yang sejak tahun 1967 menjadi aktor di Paris, Prancis), Sutardjo Wiramihardja, Tien Sri Kartini, Soeharmono Tjitrosoewono, Gigo BS, dan Adrin Kahar. 

Sejak itu setiap tahun Suyatna mensutradarai sekitar empat pergelaran teater (drama modern). Hampir semua drama terkenal yang merupakan naskah standar, baik nasional maupun internasional. Naskah drama Indonesia yang pernah disutradarainya antara lain, karya-karya: Saini KM, Dtuy T. Sontani, Kirjomulyo, Achdiat K. Miharja, Ajip Rosidi. Sedang naskah drama dunia yang pernah disutradarainya antara lain karya Anton Chekov, WB Yeat, Robert Anderson, Archikola Gogol, Ben Johnson, Yevgency Schawwart, Moliere, Bertolt Brecht, Hendri Von Kliest, Frederich Durrenmatt, Sophokles, Goethe, Albert Camus, Girradoux, Shakespeare, Schiller,dll.

Selain menyutradarai, ia juga bermain dalam pergelaran yang disutradarainya, terutama pergelaran dalam kurun waktu 1958 sampai 1980-an. Permainannya dalam pergelaran-pergelaran itu selalu mendapat pujian dari para penonton, maupun para kritisi, dalam peran apapun.

Suyatna Anirun Suhu Teater Indonesia 

Ketika bermain sebagai Raja Lear, dalam pergelaran King Lear, karya William Shakespear, yang juga disutradarainya sendiri merupakan karya paling monumental. Pada usianya yang ke 50 (Mei 1987) dia tampil sangat memikat, sehingga Arifin C. Noer menuliskan Suyatna tampil dalam setiap adegan dengan daya pikat yang sangat kuat. Dan puncak keseniannya tampil pada saat Lear berada pada puncak kegilaannya. (Tempo, 1987).

Pergulatannya dengan Teater Indonesia tidak hanya terbatas pada penyutradaraan dan menjadi aktor, tetapi juga di bidang penerjemahan dan penyaduran karya-karya dunia. Karya terjemahannya adalah Arwah-Arwah (WB Yeats/1958), Pinangan (Anton Chekov/1958), Paman Vanya (Anton CheChekov/1961), Musa dan Fir’aun (Chrisoper Fry/1967), dan Karto Loewak(Ben Johnson/1982). Karya sadurannya antara lain Di Pantai Baile (WE Yeats),Burung Camar (Anton Chekov), Mawar Biru (Tenessee Williams), Jangan Biarkan Pagi Datang (Tenesse Williams), Tembang Perkasa (Joseph O’Connor), Tabib Tetiron (Malire), Pengadilan Anak Angkat (Bertolt Brecht), Jambangan yang Pecah (Hendrik von Kleis), Prabu Randumulus(Durrenmat), dan Kuda Perang (Goethe).

Buku yang pernah ditulisnya antara lain Catatan Perjalanan I, II, III (Buku Memoir yang diterbitkan terbatas), Hakikat Seni Peran (1979, Proyek Pengembangan Kurikulum STSI Bandung), Ikhtisar Teknik Penyutradaraan Teater Modern (1995, Proyek Pengembangan Kurikulum STSI Bandung),Pengantar Kepada Seni Peran (1979, Proyek Pengembangan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat), Bagi Masa Depan Teater Indonesia (1983, PT. Granesia Bandung), Oeidipus dan Sang Pendekar (1987, Penerbitan Terbatas), Teater Untuk Dilakoni (1993, diterbitkan dalam rangka ulang tahun STB ke-35) dan Menjadi Aktor (1998). Penghargaan yang pernah diperoleh: 1993 menerima Anugerah Seni untuk Bidang Teater dari Menteri P & K RI. Ia juga dikenal di dunia jurnalistik, sejak 1974 menjadi karyawan redaksi harian umum Pikiran Rakyat. 1990-1992 mengasuh Ruang Kebudayaan harian umum Bandung Pos. 1992-1994 Pengasuh Mitra Budaya, Ruang Budaya Tabloid Mitra Desa. Mengasuh Studiklub Teater Bandung.

Dalam catatan ini saya hanya ingin membuka tabir bahwa Pada periode 1950-1980, Gedung YPK pernah jadi ajang para budayawan Bandung seperti seniman Teater Jim Liem (Jim Adilimas), Suyatna Anirun, bersama anggota Studiklub Teater Bandung (STB); sastrawan Ajip Rosidi, Rustandi Kartakusumah, Rahmatullah Ading Affandie (RAF), bersama seniman lainnya. Begitu pula bagian bangunan utama pernah dipakai sekretariat Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS).

Status Gedung ini sekarang adalah milik negara, tapi hak penghunian adalah YPK. Sejak ditetapkan sebagai gedung kesenian pada 1949, gedung ini banyak menelurkan para seniman berprestasi. Tidak sedikit seniman ‘berumah’ di YPK menunjukkan prestasi, seperti Bing Slamet, Upit Sarimanah, Ade Kosasih, Asep Sunandar, dan lainnya. Tempat ini memang biasa digunakan juga untuk ajang Binojakrama padalangan di Bandung. Pembenahan demi pembenahan dilakukan pada gedung historis ini. Maklum gedung ini sudah cukup tua. Tahun 1976 penataan kembali ditingkatkan, secara bertahap dengan dana seadanya pengelola tak mau gedung ini terbengkalai.

Pada perkembangan selanjutnya, Gedung YPK juga dijadikan alamat sekretariat beberapa paguyuban seni dan budaya, salah satunya Caraka Sundanologi. Gedung YPK kini difungsikan sebagai gedung kesenian. (Khusus catatan soal Gerakan Kebudayaan Naripan nanti akan dibahas khusus ditulisan lain:soal akan dialih fungsikan YPK dari pusat kebudayaan menjadi plaza saat itu).

Tentang Villa Evangeline & Tokoh Pers Tirto Adhi Surjo

Gedung YPK nama awalnya Villa Evangeline. Tahun 1904 gedung dini digunakan sebagai kantor badan hukum NV Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften “Medan Prijaji”. Badan hukum yang dibuat oleh Raden Mas Tirto Adhi Surjo(1878-1918) selanjutnya beliau dikenal tokoh pers Indonesia yang menerbitkan koran Medan Prijaji.

Medan Prijaji adalah surat kabar berbahasa Melayu yang terbit di Bandung pada Januari 1907 hingga Januari 1912. Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan, dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. Surat kabar ini didirikan oleh Tirto Adhi Surjo. Medan Prijaji menjadi koran pertama yang dikelola pribumi dengan uang dan perusahaan sendiri.

Sebelum menerbitkan “Medan Prijaji”, pada Januari 1904 Tirto Adhi Surjo bersama H.M. Arsad dan Oesman mendirikan dulu badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften. “Medan Prijaji” beralamat di Djalan Naripan, Bandung, yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK). N.V. ini dicatat sebagai N.V. pribumi pertama dan sekaligus NV pers pertama dengan modal sebesar f 75.000 yang terdiri atas 3.000 lembar saham.

Dengan dana tersebut terbitlah Medan Prijaji dengan format mingguan yang terbit tiap hari Jum’at. Surat kabar yang berukuran seperti buku atau jurnal mungil (12,5×19,5 cm) tersebut dicetak di percetakan Khong Tjeng Bie, Pancoran, Betawi. Rubrik tetapnya adalah mutasi pegawai, salinan Lembaran Negara dan pasal-pasal hukum, cerita bersambung, iklan, dan surat-surat. Tak sedikit artikel-artikel panjang itu didesain dalam dua kolom, namun sebagian besar dituliskan dalam satu kolom seperti jurnal.

Suara koran ini menjadi kritik pedas bagi pemerintah kolonial dan alamat pengaduan bagi setiap pribumi yang diperlakukan tidak adil oleh kekuasaan. Oleh karena itu diperlukan usaha mandiri mencetaknya. Maka dengan pengetahuan dan pengalaman niaganya, diwajibkan bagi calon pelanggan untuk terlebih dahulu membayar uang muka berlangganan selama satu kuartal, setengah, atau satu tahun, yang saat ini kita kenal dengan sebutan saham. Dilobinya beberapa pangrehpraja yang tertarik dengan gagasannya. Jadilah dua orang penyumbang dana besar, yakni Bupati Cianjur RAA Prawiradiredja dan Sultan Bacan Oesman Sjah. Masing-masing menyumbang f 1.000 dan f 500.

gedung-ypk_604
Gedung YPK di Jalan Naripan Bandung

Ketika pertama kali terbit di Bandung, “Medan Prijaji” mencantumkan moto di bawah nama “Medan Prijaji” sbb: “Ja’ni swara bagai sekalijan Radja2. Bangsawan Asali dan fikiran dan saoedagar2 Anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja jang dipersamakan dengan Anaknegri di seloereoeh Hindia Olanda“.

Delapan asas yang diturunkan Tirto Adhi Surjo di halaman muka edisi perdana, antara lain memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasikan diri, membangunkan dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan.

Menurut buku Sejarah Pers Sebangsa, disebut nama-nama para pengelola Medan Prijaji. Sebagai pemimpin redaksi (hoofdredacteur) adalah Tirto Adhi Surjo, dengan redaktur A.W. Madhie, Raden Tjokromidjojo, Raden Soebroto (ketiganya dari Bandung), R.M. Prodjodisoerjo dan R. Kartadjoemena di Bogor, dan P.t (Paduka tuan) J.J. Meyer, pensiunan Asisten Residen di ‘s Gravenhage, sebagai redaktur di Belanda. Juga disebut adanya beberapa jurnalis bangsa Tiong Hoa dan pribumi antara lain Begelener, Hadji Moekti dan lain-lain.

Pada tahun 1910 di Betawi, “Medan Prijaji” terbit tiap hari kecuali hari Jumat dan Minggu dan hari raya. Nomor 1 terbit pada 5 Oktober 1910.

Rubrik yang paling digemari adalah surat dan jawaban serta penyuluhan hukum gratis yang disediakan Medan Prijaji kepada rakyat yang berperkara. Usaha inilah yang menjadikan koran ini berkembang. Simpati pun datang melimpah-limpah hingga pada tahun ketiga terbitannya, tepatnya Rebo 5 Oktober 1910, Medan Prijaji berubah menjadi harian dengan 2000 pelanggan yang menurut laporan Rinkes: “untuk harian Eropa di Hindia pun sudah merupakan jumlah bagus, lebih-lebih untuk harian Melayu….”

Ketika pertama kali terbit menjadi harian tetap, mengambil tahun IV karena tahun I, II, dan III masih mingguan yang terbit di Bandung. Di bawah judul surat kabar harian “Medan Prijaji” itu tertulis moto: “Orgaan boeat bangsa jang terperentah di H.O. Tempat akan memboeka swaranya Anak-Hindia“. Di zaman itu, merupakan sebuah keberanian luar biasa mencantumkan moto seperti itu. Medan Prijaji menjadi surat kabar pembentuk pendapat umum, berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda pada masa itu. Kecaman hebat dan pedas yang pernah dilontarkannya terhadap tindakan-tindakan kontroler.

Medan Prijaji mengambil posisi sebagai corong suara publik. Sebagai aktivis pergerakan, tulisan-tulisan Tirto Adhi Surjo dalam Medan Prijaji tak pernah berbasa-basi, tapi menunjuk muka langsung. Hampir tak ada satu pun kebijakan kolonial yang dirasa memberatkan rakyat yang lolos dari pemberitaan Medan Prijaji. Di seluruh karesidenan Jawa, Medan Prijaji bukan lagi taman, tapi benar-benar medan berkelahi. Di Banten, Rembang, Cilacap, Bandung, diperkarakannya banyak hal.

Salah satu kasus terkenal adalah perkara di Kawedanan Cangkrep Purworejo. Medan Prijaji dengan bahasa terbuka memuat artikel tentang persekongkolan jahat antara Aspirant Controleur Purworejo A Simon dengan Wedana Tjorosentono yang mengangkat lurah Desa Bapangan yang tak beroleh dukungan warga. Sementara kandidat pertama yang didukung, Mas Soerodimedjo, malah ditangkap dan dikenakan hukuman krakal.

Terbakar oleh amarah melihat penyalahgunaan wewenang itu Tirto menyebut pejabat tersebut sebagai monyet penetek atau ingusan dalam Medan prijaji No 19, 1909. Investigasi atas kasus itu didukung 236 warga Desa Bapangan dan warga ini pula mengirim surat kepada Tirto yang berisi dukungan pasang-badan kalau-kalau Tirto kena denda atas tulisannya.

Tirto Adhi Surjo memang kalah dalam perkara persdelict dengan A Simon itu dan dibuang ke Lampung dua bulan. Tapi dari kasus itu, Medan Prijaji mendapat perhatian pers di Belanda dan Tirto Adhi Surjo berkesempatan berkenalan dengan Anggota Majelis Rendah Belanda Ir HH van Kol dan pemuka politik etik Mr C Th van Deventer sehingga Medan Prijaji dipasarkan hingga di daratan Eropa.

Dari sepak terjang itu Medan Prijaji pun menjadi model pertama dari apa yang kelak disebut sebagai surat kabar pergerakan, mendahului Sarotomo, Soeloeh Indonesia, ataupun Daulat Ra’jat. Yang khas Medan Prijaji terletak pada kegiatannya yang tak berhenti dengan sekadar memberitakan sebuah peristiwa atau kebijakan yang merugikan publik, namun terjun langsung menangani kasus-kasus yang menimpa si kawula. Medan Prijaji, lagi-lagi, menjadi pelopor dari genre jurnalisme, yang puluhan tahun kemudian dikenal dengan sebutan jurnalisme advokasi.

Nomor terakhir terbit 3 Januari 1912 tahun VI. Pada 23 Agustus 1912 Medan Prijaji pun ditutup. Mas Tirto Adhi Surjo juga dituduh menipu sejumlah orang yang berhimpun di Vereeniging van Ambtenaren bij het Binnenlandsch Bestuur (Perhimpunan Amtenar Pangreh Praja). Dua bulan setelah tutup, Jaksa Agung Hindia Belanda A Browner menjatuhkan vonis bahwa Tirto bersalah telah menulis penghinaan kepada Bupati Rembang. Mas Tirto Adhi Surjo disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara).

Kisah perjuangan dan kehidupan Tirto Adhi Surjo dan proses pendirian Medan Prijaji diangkat oleh Pramoedya Ananta Toer dalam buku Jejak Langkah, buku ke-3 dalam Tetralogi Pulau Buru, yang runutan buku itu adalah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Koran Medan Prijaji

Koran yang diterbitkan dalam bahasa Malayu tersebut mulai terbit pada tahun 1907. Awalnya koran ini berupa koran mingguan serta disebarkan juga ke luar Bandung. Tiga tahun dari waktu tersebut, Medan Prijaji terbit Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu, kecuali hari Jumat, Minggu, dan hari-hari besar. Tirto Adhi Surjo juga mendirikan Soeoleoh Keadilan dan Putri Hindia (1909). Media masa saat penjajahan kolonial umumnya mengutip berita politik pemerintah dari koran Belanda atau akrab disapa ‘pers putih’, namun tidak dengan media Tirto Adhi Surjo.

Dengan bakatnya dan jaringan yang cukup baik, medianya kala itu mengkritisi dan kebijakan kolonial yang semena-mena. Seperti memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi. Hal itulah yang dianggap bahaya oleh pemerintah Belanda.

Akibatnya, Tirto Adhi Surjo kerap diteror bahkan mendapat hukuman. Pada 1912 Medan Prijaji runtuh.

Catatan gedung YPK selanjutnya masi ada, namun untuk yang ini kita sampai dulu disini dan sekadar mengenang YPK paada zaman Walanda, digunakan untuk Societet (Balai Pertemuan) yang dinamakan Ons Genoegen. Di tempat ini pada zaman Belanda biasa dipakai untuk main bilyar, catur, main kartu, serta ajang menonton hiburan yang biasanya berupa orkes kecil-kecilan. Dan ada catatan terselip bahwa pada tahun 1930-an, para tokoh politik nasional seperti Bung Karno dan kawan-kawan sering mengadakan vergadering (sidang) di gedung ini. 

|SundaNESIA|Aendra Medita: dbs/JBS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here