TENDA BIRU

0
84

Hari ini saya datang ke acara memperingati HARI IBU, yang diselenggarakan oleh Wanoja GERPIS (Gerakan Pilihan Sunda) berkolaborasi dengan Unikom dan Harian Pikiran Rakjat (PR), pada saat memasuki lobby saya berpapasan dengan rombongan salah seorang pembicara yang notabene seorang artis yang saat ini menjadi anggota dewan dari Partai Amanat Nasional (PAN), Teh Dessy Ratnasari.

Jujur, saya sedikit kaget dengan penampilannya yang menurut saya cukup sederhana bagi seorang bintang setenar beliau ini, keramahan yang tidak dibuat-buat membuat saya ingin mengenal Teh Dessy ini lebih dekat lagi.

Kami memakai lift yang sama, untuk sampai ke lantai 17 gedung Unikom tempat acara diselenggarakan.

Dan tidak sedikitpun saya melihat raut risih di wajah si teteh geulis ini, pada saat harus sedikit berdesakan didalam lift, bersama beberapa orang yang baru ditemui di lobby.
Disini saya tidak akan membahas tenda biru, sesuai judul yang saya tulis meski saya sendiri kalau memasuki ranah cucokologi, sepertinya cukup relevan dengan materi atau lebih ke celetukan teh Dessy terkait thema kali ini, “Negara, Perempuan dan Anak”, yaitu janda berdaya.

Sungguh saya tergelitik untuk sedikit ngacapruk.com mengenai kata yang satu ini.. janda.., sebuah kata yang dalam masyarakat kita seringkali identik dengan steorotip minor, bahkan jadi olok-olok atau candaan sebagian orang.

Karena mereka tidak pernah tahu apalagi merasakan beratnya perjuangan janda2 berdaya yang banyak disekeliling kita.

Meski kalau boleh memilih, saya lebih nyaman dengan sebutan pernah menikah daripada janda, karena kalau tidak menikah itu namanya pengaburan sejarah..

Juga bukan single parent, karena kami bukanlah Siti Maryam, dan anak adalah hasil kreasi bersama antara sepasang lelaki dan perempuan dalam ikatan sah sebuah pernikahan.

Kembali mengutip isi paparan Teh Dessy. Anak itu adalah tanggungjawab bersama kedua orangtuanya, sekalipun terjadi perceraian, karena kan bikinnya juga bareng2, masa giliran tanggungjawab harus lempar-lemparan.

Menarik, dan tidak sesederhana yang kita fikirkan kalau kita mau mengupas tentang peran perempuan sebagai tonggak sebuah negara.

Perempuan-pperempuan yang karena situasi (meski saya lebih memilih kata takdir) harus menjalani kehidupan sendiri dan tetap survive serta menjadi barometer moral buat anak2nya yang notabene adalah matarantai generasi penerus sebuah bangsa.
Lalu apakah negara sudah hadir dalam kehidupan perempuan ?( terutama perempuan2 yang harus berjuang sendirian).

Dalam bentuk perlindungan yang diundang-undangkan?

Mungkin ini adalah PR Teh Dessy di parlemen agar hak2 perempuan lebih terjamin, sehingga kita tidak lagi mendengar kasus2 seperti, KDRT, perundungan, rudapaksa bahkan trafficking yang masih marak terjadi, terutama dikalangan grassroots.

Bagaimana perempuan keluar dari stigma sebagai hanya pelengkap dan komoditi dimata sebagian orang terutama para hidung belang. (Karena kasus open BO saat ini sedang marak juga).

Bagaimana perempuan bisa berdaya tanpa melawan kodrat?
Dan banyak lagi bagaimana yang lain,.

Yang tentu saja butuh waktu yang tidak sebentar kalau ingin menjadikan perempuan sebagai agen perubahan.

Perempuan kuat bermartabat, akan melahirkan generasi penerus bangsa yang lebih hebat..semoga!

Cag.

Mandalawangi, 231222

Rita Rossie

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here